Myexpresi

KITA HIDUP DEMI SEBUAH TUJUAN

ADAB- ADAB DALAM MAJELIS

Tinggalkan komentar

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah Firman Allah Subhanahu Wata’ala : إِنَّ هَذِهِ أُمَّتُكُمْ أُمَّةً وَاحِدَةً وَأَنَا رَبُّكُمْ فَاعْبُدُونِ “Sesungguhnya (agama Tauhid) ini adalah agama kamu semua, agama yang satu dan Aku adalah Tuhanmu, maka sembahlah Aku.” (Al-Anbiya`: 92). Umat Islam adalah umat yang satu dan bersatu. Satu dalam akidah dan ibadah dan bersatu di atas akidah dan ibadah yang lurus dengan berpegang kepada tali Allah dan petunjuk Rasulullah Sallallahu ‘alaihi wasallam. Satu, ibarat bangunan kokoh, sebagian memperkuat sebagian yang lain. Satu, sehingga dalam kasih sayang dan belas kasih, ibarat satu tubuh, di mana jika salah satu anggotanya sakit, maka yang lain akan merasakannya. Satu, maka seorang dari umat ini belum dianggap meraih derajat iman yang sempurna sebelum dia mencintai saudaranya sebagaimana dia mencintai dirinya. Satu, oleh karena sebagian dari umat tidak menganiaya sebagian yang lain, tidak membohonginya, tidak mengkhianatinya, tidak menyerahkannya pada musuh, tidak menghinanya, tidak saling memunggungi, tidak saling iri dengki dan tidak bahu membahu dalam kejahatan dan kemungkaran, karena mereka adalah hamba-hamba Allah Subhanahu Wata’ala yang bersaudara. Kaum Muslimin Rahimakumullah Umat Islam adalah umat yang satu dan bersatu. Kesatuan dan persatuan ini harus dijaga, dipertahankan, dirawat dan dipupuk sebaik dan semaksimal mungkin, dan majelis adalah salah satu sa-rana dan jembatan untuk itu. Oleh karena itu, Allah q mensyariat-kan kepada umat untuk mendatangi majelis-majelis dalam beberapa waktu dan keadaan seperti shalat lima waktu, shalat Jum’at, shalat Id, haji, majelis-majelis dzikir dan ilmu, hal itu karena berkumpul dan bermajelis memupuk hubungan baik dan cinta kasih, menying-kirkan kebencian dan terputusnya hubungan baik di antara mereka, membuat setan yang membenci ijtima’ mereka di atas kebaikan dan berusaha merusak hubungan baik di antara mereka menjadi kecele, menumbuhkan sikap berlomba-lomba dalam kebaikan, sebagian meneladani yang lain, sebagian mengajar kepada yang lain, sebagian belajar dari yang lain, begitu pula teraihnya pahala agung dengan majelis yang tidak diraih dalam keadaan menyendiri. Kaum Muslimin Rahimakumullah Jika hikmah yang diharapkan dari berkumpul dan bermajelis adalah demikian, maka tidak semua majelis layak diadakan dan dihadiri. Majelis-majelis dunia murni yang berisi permainan sia-sia, pembicaraan tidak berguna (ngalor-ngidul), haruslah dihindari, lebih-lebih majelis yang membuat orang yang menghadirinya lalai dari Allah dan ayat-ayatNya, majelis ini tidak patut dan tidak layak untuk dihadiri oleh seorang Muslim. Sebaliknya majelis yang patut dihadiri dan sudah selayaknya jika seorang Muslim menjadi salah satu anggotanya adalah majelis-majelis ibadah, seperti yang telah khatib singgung di awal khutbah ini, termasuk pula majelis dzikir, yakni majelis ilmu tentang kitab Allah dan Sunnah Rasulullah Sallallahu ‘alaihi wasallam. Atha` bin Abu Rabah Rahimahullah, salah seorang murid Ibnu Abbas Radhiallahu ‘anhuma berkata, “Majelis dzikir adalah majelis-majelis (yang mempela-jari) halal dan haram, bagaimana kamu membeli, menjual, bagai-mana kamu shalat, puasa, haji, menikah, mentalak dan lain-lain.” Dalam konteks ini Rasulullah Sallallahu ‘alaihi wasallam bersabda : وَمَا اجْتَمَعَ قَوْمٌ فِي بَيْتٍ مِنْ بُيُوْتِ الله يَتْلُوْنَ كِتَابَ الله، وَيَتَدَارَسُوْنَهُ بَيْنَهُمْ، إِلَّا نَزَلَتْ عَلَيْهِمُ السَّكِيْنَةُ، وَغَشِيَتْهُمُ الرَّحْمَةُ، وَحَفَّتْهُمُ الْمَلَائِكَةُ، وَذَكَرَهُمُ الله فِيْمَنْ عِنْدَهُ. “Tidaklah suatu kaum berkumpul di salah satu rumah Allah, mereka membaca kitab Allah, dan mempelajarinya di antara mereka, kecuali ketenangan turun kepada mereka, rahmat menaungi mereka, malai-kat mengelilingi mereka dan Allah menyebut-nyebut mereka kepada para malaikat di sisiNya.” (HR. Muslim dari Abu Hurairah. Mukh-tashar Shahih Muslim, no. 1888). Dari Mu’awiyah Radhiallahu ‘anhu, dia berkata : إِنَّ رَسُوْلَ الله صلى الله عليه وسام خَرَجَ عَلَى حَلَقَةٍ مِنْ أَصْحَابِهِ فَقَالَ: مَا أَجْلَسَكُمْ؟ قَالُوْا: جَلَسْنَا نَذْكُرُ الله، وَنَحْمَدُهُ عَلَى مَا هَدَانَا لِلْإِسْلَامِ، وَمَنَّ بِهِ عَلَيْنَا قَالَ: وَالله، مَا أَجْلَسَكُمْ إِلَّا ذَاكَ؟ قَالُوْا: وَالله، مَاأَجْلَسَنَا إِلَّا ذَاكَ. قَالَ: أَمَّا إِنِّيْ لَمْ أَسْتَحْلِفْكُمْ تُهْمَةً لَكُمْ، وَلَكِنَّهُ أَتَانِيْ جِبْرِيْلٌ فَأَخْبَرَنِيْ أَنَّ الله يُبَاهِي بِكُمُ الْمَلَائِكَةَ. “Sesungguhnya Rasulullah Sallallahu ‘alaihi wasallam keluar menemui kumpulan sahabat-sahabatnya, beliau bertanya, ‘Apa yang membuat kalian duduk?’ Mereka menjawab, ‘Kami duduk berdzikir kepada Allah dan memu-jiNya atas nikmat petunjukNya kepada kami kepada Islam.’ Beliau bertanya, ‘Demi Allah, hanya itu yang membuat kalian duduk (ber-kumplul begini)?’ Mereka menjawab, ‘Demi Allah, hanya itu yang membuat kami duduk (berkumpul ini).’ Rasulullah Sallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Ketahuilah, sesungguhnya aku tidak meminta kalian bersumpah karena aku menuduh kalian, akan tetapi Jibril ‘Alahissalam mendatangiku dan mengabarkan kepadaku bahwa Allah ‘Azzawajalla membanggakan kalian di depan para malaikat.’ (HR. Muslim, Mukhtashar Shahih Muslim, no. 1889). Kaum Muslimin Rahimakumullah Majelis yang benar-benar mulia, majelis yang dinaungi rahmat, dihadiri malaikat, dipayungi ketenangan dan dibanggakan oleh Allah di hadapan malaikat, adalah majelis yang harus diusahakan dan dihadiri. Kaum Muslimin Rahimakumullah Karena majelisnya merupakan ijtima’ alal khair (berkumpul di atas kebaikan) sasarannya pun merupakan kebaikan dan sepa-tutnya ia dihadiri, maka demi melengkapi kebaikan tersebut, sudah sepatutnya yang hadir memperhatikan adab-adab berikut: [1]. Hendaknya hadir dalam keadaan bersih. Bersih badan dan pakaian, hal ini merujuk kepada disyariatkannya mandi, berpakaian bagus dan memakai minyak wangi untuk shalat Jum’at yang meru-pakan salah satu majelis kebaikan. Dari sini benarlah apa yang di-katakan oleh sebagian ulama, “Semua kesempatan yang disyariat-kan berkumpul, disyariatkan pula mandi dan bersih diri.” Hadir dengan badan dan pakaian kotor, aromanya hanya akan meng-ganggu saudara-saudara yang lain yang menghadirinya termasuk para malaikat yang juga ikut hadir di dalamnya. Dari sinilah, maka Rasulullah Sallallahu ‘alaihi wasallam tidak mengizinkan orang yang makan bawang merah dan bawang putih (mentah) untuk menghadiri masjid, beliau men-jelaskan alasannya, yaitu para malaikat terganggu dengan baunya sebagaimana Bani Adam juga terganggu. Saat ini bawang jarang di-makan, kecuali dalam keadaan telah dimasak dan itu mematikan aromanya, justru saat ini muncul yang lebih busuk aromanya dan sangat berbahaya akibatnya, yakni rokok. Maka sangat tidak patut bagi seorang Muslim hadir di majelis kebaikan dan menjepit rokok di kedua jarinya, karena di samping merugikan dan mengganggu juga membuat malaikat enggan menghadiri majelis tersebut, karena mereka juga terganggu dengan bau busuknya. Celakanya hal se-perti ini tidak jarang terjadi. Khatib sering menjumpai di beberapa majelis pengajian, bahkan pengajian tersebut diadakan di masjid, di sebagian lembaga pendidikan yang bernafas agama, lebih celaka lagi, justru pelopornya adalah si pemberi pengajian atau si pendi-dik itu sendiri. Kita berlindung kepada Allah dari ilmu yang tidak berguna. Kaum Muslimin Rahimakumullah [2]. Karena salah satu hikmah ijtima’ di sebuah majelis adalah memupuk hubungan baik di antara sesama Muslim, maka hendak-nya yang hadir mengucapkan salam dan berjabat tangan. Salam, kata Rasulullah Sallallahu ‘alaihi wasallam, menumbuhkan rasa cinta kasih dan berjabat tangan merupakan bukti perdamaian dan sebab ampunan. Dari Abu Hurairah Radhiallahu ‘anhu, ia berkata, Rasulullah Sallallahu ‘alaihi wasallam bersabda “ إِذَا انْتَهَى أَحَدُكُمْ إِلَى الْمَجْلِسِ فَلْيُسَلِّمْ، فَإِذَا أَرَادَ أَنْ يَقُوْمَ فَلْيُسَلِّمْ. “Apabila salah seorang di antara kalian sampai di suatu majelis, maka hendaknya dia memberi salam. Dan jika hendak berdiri, maka hen-daknya memberi salam.” (HR. Abu Dawud, no. 5208 dan at-Tir-midzi, no. 2711, at-Tirmidzi berkata, “Hadits hasan.” Sanadnya dihasankan oleh Syu’aib al-Arna`uth dalam Tahqiq Riyadh ash-Shalihin, bab 139, hadits no. 1/86). Dari al-Bara` Radhiallahu ‘anhu, ia berkata, Rasulullah Sallallahu ‘alaihi wasallam bersabda : مَا مِنْ مُسْلِمَيْنِ يَلْتَقِـيَانِ فَيَتَصَافَحَانِ إِلَّا غُفِـرَلَهُمَا قَبْلَ أَنْ يَفْتَرِقَا. “Tidaklah dua orang Muslim bertemu, lalu keduanya berjabat tangan, kecuali keduanya diampuni sebelum keduanya berpisah.” (HR. Abu Dawud, no. 5214 dan at-Tirmidzi, no. 2732; dihasankan oleh al-Arnauth dalam Tahqiq Riyadh ash-Shalihin, bab 143, hadits no. 3/887). Kaum Muslimin Rahimakumullah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s